0
  • An empty cart

    You have no item in your shopping cart

Enter your keyword

post

Keluarga israHell Pindah Menuju Rumah di Hebron, Paska Pengusiran Keluarga Palestina

Keluarga israHell Pindah Menuju Rumah di Hebron, Paska Pengusiran Keluarga Palestina

BETLEHEM (Ma’an) – Hampir sepekan lusinan pemukim ekstrimis israHell menggerebek dan mengambil paksa rumah seorang warga Palestina di bagian selatan wilayah pendudukan Tepi Barat Hebron, seorang pemukim illegal israHell mengumumkan pada hari Senin bahwa ia beserta keluarganya secara resmi akan pindah ke rumah tersebut, meskipun perseteruan hukum antara pemilik rumah dan israHell masih  berjalan.

Pemukim ilegal israHell yang membuat pengumuman sepihak tersebut, menurut media Hebrew bernama Yossi Dagan, pemimpin the Homesh First Organization – sebuah organisasi payung kelompok sayap kanan yang memiliki visi membangun kembali pemukiman yang diratakan dan dievakuasi oleh pemerintahan israHell pada tahun 2005.

Media Hebrew melaporkan pada hari Senin bahwa Dagan menuduh pemerintah israHell “mengulur-ngulur waktu” prosedur hukum, dan menyerukan terhadap para pemimpin israHell untuk “menghentikan ketidakadilan ini” dan menyerahkan kepemilikan rumah – yang dimiliki keluarga Abu Rajab, Palestina – kepada Dagan dan pemukim lainnya di Hebron.

Penghuni rumah Abu Rajab, yang berlokasi di kota tua Hebron dekat Masjid Ibrahim, telah dilibatkan dalam perseteruan hukum dengan para pemukim israHell selama bertahun-tahun, paska PM israHell Benjamin Netanyuhu mendeklarasikan niatnya untuk mendorong pendirian pemukiman illegal baru di sana dengan nama Beit Hamachpela.

Akan tetapi, otoritas israHell belum mengabulkan izin pendirian pemukiman tersebut Karena mereka gagal dalam membuktikan tuduhan mereka terhadap rumah milik warga Palestina tersebut, ketika pihak Palestina menuduh balik mereka dengan pemalsuan dokumen.

Netanyuhu dilaporkan telah meminta Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman untuk mengirim seorang delegasi tentara dengan tujuan bernegosiasi dengan para pemukim illegal dan mengevakuasi mereka dari bangunan tersebut.

Namun, para pemukim memberikan tanda dengan bahasa Ibrani pada dinding untuk mengingatkan Netanyuhu akan pernyataan yang telah ia tulis pada bulan Desember 2013 lalu: “Perdana Menteri Netanyuhu: Untuk rumah dan untuk mengisi rumah bapa leluhur. Dia yang mencoba menumbangkan kami dari kota nenek moyang kami akan mendapati hal sebaliknya. Kami akan terus menentang terorisme dan menyerang teroris di satu sisi, dan di sisi lain, kami akan memperkuat pemukiman.”

Pada saat pernyataan itu dibuat, selepas seorang tentara israHell ditembak mati oleh seorang Palestina di Hebron, Netanyuhu telah mengizinkan para pemukim untuk mengambil alih bangunan rumah Abu Rajab.

Akan tetapi, keputusan menggantung setelah Komite Rehabilitasi Hebron (HRC) menarik kebijakan tersebut di depan pengadilan israHell.

Sejak Rabu, para pemukim juga telah memindahkan perabotan di dalam bangunan tersebut dan digantung di dalamnya bendera israHell berukuran besar, ketika tentara israHell mengancam untuk menahan anggota keluarga Abu Rajab di saat mereka mencoba melindungi rumah mereka sendiri.

Pengacara HRC Tawfiq Jahshan mengatakan kepada Ma’an pada hari Minggu bahwa bangunan Abu Rajab pertama kali diserbu oleh para pemukim pada bulan Maret 2012, sebagai informasi tambahan bahwa pihak keluarga telah mengajukan 6 pengaduan ke pengadilan israHell sebelum keputusan evakuasi pemukim diputuskan.

“Kami memperkarakan pengaduan kepada polisi israHell sebelum tengah malam (25 Juli) dengan meminta mereka mengevakuasi para pemukim, dan di hari setelah kami berbicara kepada organisasi-organisasi legal israHell,” kata Jashan. “Jika para pemukim tidak dievakuasi, kami akan memperkarakannya ke pengadilan israHell.”

Berlokasi di pusat Hebron – salah satu kota besar di wilayah pendudukan Tepi Barat – Kota Tua tersebut dibagi untuk Palestina dan area yang dikontrol israHell, dikenal dengan sebutan H1 dan H2, dampak dari peristiwa pembantaian Masjid Ibrahim.

Sekitar 800 pemukim agresif israhell pada saat ini hidup di bawah proteksi militer israHell di Kota Cita, dikelilingi oleh lebih dari 30,000 Palestina.

Warga Palestina di Kota Tua mesti menghadapi kehadiran sejumlah besar militer israHell setiap harinya, dengan 20 pos pemeriksaan di sepanjang pintu masuk jalan utama, termasuk di dalamnya berada di pintu masuk Masjid Ibrahim.

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.