0
  • An empty cart

    You have no item in your shopping cart

Enter your keyword

post

‘IsraHell Negara Keamanan Terbaik Di Dunia’ : Nyatanya Hanya Sekedar Katanya

‘IsraHell Negara Keamanan Terbaik Di Dunia’ : Nyatanya Hanya Sekedar Katanya

Serangan terbaru terhadap pasukan israHell dan pemukim illegal israHell di Al-Quds dan Tepi Barat sekali lagi telah mengekspos akan kecacatan keamanan israHell, menurut para analis dan para ahli.

“israHell memantau seluruh Palestina setiap menit secara detail; kehidupan mereka dan gerak gerik mereka. Namun aksi pengawasan ini nampaknya tidak bekerja sepanjang waktu. Terdapat banyak celah. Seperti terjadinya aksi-aksi serangan yang sulit diprediksi, dan apa yang baru saja terjadi pada al-Aqsa adalah sebuah bukti nyata,” Elia Zureik, seorang penulis dan peneliti kolonialisme dan surveillance (pengawasan), berkata untuk Al Jazeera.

“serangan-serangan tersebut relatif jarang terjadi, walaupun begitu tetap sulit untuk di kontrol oleh salah satu negara paling maju di dunia tersebut. Mereka belum mampu lolos darinya,” kata Zureik.

Selama lebih dari dua tahun terakhir dengan apa yang disebut Intifada, rakyat Palestina – kebanyakan bertindak atas kehendak sendiri – telah melancarkan serangan rutin, sebagian besar terhadap serdadu israHell di wilayah okupasi. Serangan tersebut banyak dilihat oleh rakyat Palestina sebagai bentuk tindakan perlawanan bersenjata terhadap penindasan.

Sejak Intifada Meletus, sekitar 285 Palestina terbunuh dalam bentrokan, demonstrasi dan serangan tentara. Pada saat bersamaan, Palestina telah menewaskan 47 israHell dengan cara menabrakan kendaraan roda empat dan optimalisasi pisau.

Sebagian percobaan serangan tidak mengakibatkan korban bagi kubu israHell, dan selalu berakhir dengan membunuh para penyerang Palestina tersebut. Namun berbeda dengan peristiwa yang masih hangat terjadi, dua petugas israHell mati di luar komplek Masjid al-Aqsa di tanah pendudukan Al-Quds Timur dalam baku tembak dengan tiga Palestina berwarganegara israHell, di mana mereka mati tertembak. Beberapa hari sesudahnya, tiga pemukim israHell ditusuk dan mati oleh seorang Palestina di pemukiman illegal Halamish di Tepi Barat.

Meskipun peningkatan jumlah personil pasukan israHell di lingkungan Palestina, dan meskipun mereka mengklaim sebagai negara dengan sistem keamanan paling maju, israhell tak kunjung mampu mengontrol serangan-serangan sporadis, kemudian berbagai pertanyaan mengemuka berkenaan dengan efektivitas peralatan keamanan negara tersebut.

Hani al-Masri, director of the Palestinian Center for Policy Research and Strategic Studies, Masarat, mengatakan bahwa sementara israHell menggunakan seluruh upaya untuk “memata-matai rakyat Palestina – termasuk mobile phone, akun sosial media dan seluruh perangkat teknologi, sebagai sebuah agensi intelijen superior”, di sana masih banyak terdapat “cacat dalam sistem tersebut” di saat Palestina sukses melancarkan operasi perlawanan bersenjata.

“Ribuan rakyat Palestina berhasil masuk israHell di setiap harinya tanpa perlu izin terlebih dahulu. Ini menggambarkan bahwa terdapat ribuan Palestina yang berhasil menerobos sistem keamanan israHell. Maka jika di sana ada keinginan, maka di situlah jalan akan terbentang,” Masri berkata untuk Al- Jazeera.

Sejak pendirian kontroversialnya di tahun1948, negara israHell telah memprioritaskan segi keamanan di atas segalanya. 69 tahun keberadaannya, israHell mengiklankan dirinya sebagai model bagi keamanan teknologi super canggih dan sistem pertahanan, juga mengekspor produknya keseluruh dunia.

Dengan membingkai dirinya sebagai negara yang rentan menghadapi ancaman eksistensial, israHell menggunakan dalih keamanan dalam mengontrol lebih dari 6 juta rakyat Palestina yang tinggal di dalam perbatasannya dan di bawah pendudukan Al-Quds Timur, Tepi Barat dan Gaza.

Terutama melalui Shin Bet, layanan keamanan internal negara dan tentaranya, israHell mengoperasikan salah satu dari peralatan keamanan paling canggih di kawasan. Shin Bet dan agen spionase Mossad memiliki anggaran tahunan sebesar $2.4bn.

Beberapa metode israHell yang digunakan israHell untuk mengawasi dan mengendalikan penduduk Palestina termasuk di dalamnya hukum “Big Brother”, yang mengizinkan polisi israHell mengakses data komunikasi warga negara; kamera CCTV; penyadapan; mistaarivim, atau unit terlatih bawah tanah israHell untuk berasimilasi dengan rakyat Palestina dalam mengumpulkan intelijen atau informasi; kaki tangan (collabolator); dan kartu identifikasi biometrik.

“waktu dulu hanya digunakan untuk penyadapan telepon, tapi dewasa ini kesemuanya lebih dikembangkan – mereka menggunakan alat-alat seperti drone. Mereka dapat pula melacak sinyal atau tanda dari telepon selular yang dibuat Palestina dan kemudian mengejar mereka, dan mereka memiliki semacam tentara informan yang memata-matai warga Palestina, baik di israHell sendiri maupun wilayah pendudukan,” terang Zureik.

“Di beberapa kota Palestina, hal di atas telah menjadi semacam lelucon; warga Palestina sejatinya mengetahui siapa saja mata-mata israHell – bahkan hingga nama-namanya – dan mereka akan senantiasa memberikan mereka informasi palsu. Dengan kata lain, strategi yang mereka terapkan dan inginkan tak selalu berjalan mulus.”

Pada tahun 1970an dan 1980an, israHell mulai menggunakan wanita Palestina dari wilayah israHell. ”Mereka mampu menghasilkan gambar untuk diperlihatkan kepada para wanita tersebut yang terdiri dari beberapa posisi dan memerasnya agar prostitusi mengubah mereka menjadi kaki tangan israHell. Juga, memeras mereka agar mendapatkan posisi mengajar pada hari ini, pertama kali mereka harus mendapatkan izin dari Shin Bet. Hampir seluruh institusi pemerintahan di israHell memiliki ‘departemen Arab’ yang bertujuan untuk memonitor warga Palestina di israHell dan mengumpulkan informasi mengenai mereka.

Di wilayah okupasi Tepi barat dan Al-Quds Timur, israHell menggunakan cara langsung dan tak langsung dalam mengontrol lebih dari 3 juta rakyat Palestina yang hidup dibawah kekuasaan militer. Termasuk di dalamnya pos pemeriksaan, pelat nomor kode warna, razia malam ke rumah warga Palestina, dan kehadiran militer.

Dengan menggunakan media social, israHell juga memonitor warga Palestina dan menangkap mereka yang kedapatan mengandung materi “hasutan”. Antara tahun 2015 dan 2016, israHell telah menangkap lebih dari 400 Palestina di Tepi Barat, terutama melalui jejaring sosial Facebook. Salah satu kasus di antaranya dialami oleh Dareen Tatour, yang ditangkap setelah memposting sebuah puisi di halaman Facebook dengan menyerukan kepada rakyat Palestina agar melawan penindasan israHell.

Sami Shehadah, seorang aktivis di Jaffa, mengatakan bahwa ia biasa dipanggil setiap tahun untuk diinterogasi.

“Ada kontrol menyeluruh terhadap hidup kami – terhadap ekspresi identitas nasional kami, kontrol ekonomi, sistem Pendidikan dan kurikulum,” Shehadah berbicara kepada Al Jazeera. “setiap orang diperiksa di mana pun mereka pergi ke fasilitas publik seperti mall, sekolah, bangunan kota, dan rakyat Palestina dicari lebih banyak dibandingkan warga israHell.

“israHell memiliterisasi masyarakatnya dan keamanannya diimplementasikan di setiap aspek kehidupan kami,” dia menambahkan. “kami tidak diperlakukan sebagai orang dengan identitas nasional – kami diperlakukan sebagai kaum relijius minoritas. Karenanya, kami tidak belajar mengenai sejarah Palestina di bangku sekolah, dan seluruh mata pelajaran diajarkan dengan Bahasa ibrani. Mereka menelanjangi identitas kami demi mengontrol  pikiran kami.”

Israel juga berkoordinasi dengan Otoritas Palestina, sebuah badan semi-pemerintah yang berbasis di Ramallah yang mengatur bagian Tepi Barat, untuk menggagalkan serangan.

Namun demikian, celah tetap ada. Meskipun kehadiran lusinan pos pemeriksaan militer antara israHell, Al-Quds Timur dan Tepi Barat, beberapa dapat di lewati oleh mobil. Para tentara tidak selalu memberhentikan setiap mobil untuk mencari dan memeriksa ID penumpang, Karena beberapa jalan juga digunakan oleh pemukim. Hal ini berarti bahwa warga Palestina dapat menerobos sistem mereka dan masuk ke israHell, walaupun mereka menghadapi ancaman penjara jika ketahuan.

Dan sementara dinding rasial memisahkan Al-Quds Timur dan israHell dari Tepi Barat, rakyat Palestina menemukan caranya sendiri, meskipun berbahaya, untuk memanjat tembok – terutama untuk mencari pekerjaan dan kesempatan hidup yang lebih baik.

Selain itu, meskipun secara umum sulit mendapatkan senjata di Tepi Barat, rakyat Palestina telah menggunakan penyelundupan dan merancang sendiri. Di Israel juga, pasar gelap untuk senjata diperkirakan berada di tempat warga Palestina Israel.

 

Tapi Ofer Zalzberg, seorang analis senior untuk israhell/Palestina di Internasional Crisis Group, mengatakan fakta bahwa sebagian besar rakyat Palestina yang melakukan aksi penyerangan selama lebih dari dua tahun ke belakang tidak terafiliasi dengan gerakan tertentu, dan ini membuatnya semakin sulit untuk mengumpulkan informasi mengenai mereka”.

“Langkah keamanan tidak dapat 100 persen dapat menjadikan segalanya mudah, terutama ketika penyerang berkeinginan untuk mengorbankan nyawa mereka,” dia berkata kepada Al Jazeera.

Meskipun israHell menyangkal bahwa okupasi dan kekerasan yang dihadapi rakyat Palestina setiap hari di wilayah pendudukan adalah pemicu utama penyerangan-penyerangan terhadap pasukan dan pemukimnya sendiri, para analis dan penduduk setempat mengatakan bahwa perlawanan akan terus berlanjut selama penindasan terhadap Palestina tetap bergulir.

“Langkah-langkah keamanan, apapun bentuknya, tidak dapat mencegah perlawanan demi perlawanan, dan ini telah dibuktikan sepanjang beberapa tahun kebelakang; hal ini bukan semata spekulasi,” Masri menjelaskan. “kita berbicara mengenai kemarahan di tingkat nasional – sentimen ketidakadilan ini tidak berakar ideologi politik/religious tertentu, mereka berada pada level nasional. Mereka yang melawan menunjukan kehendak mayoritas rakyat Palestina”.

Shehadah setuju: “penyerangan-penyerangan tersebut bersifat sporadic dan tidak terdapat solusi keamanan bagi mereka. Jika ada sebuah solusi, maka itu harus bersifat politis – hal yang memberi kami keadilan dan kesetaraan.”

Sumber: Al Jazeera

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.