0
  • An empty cart

    You have no item in your shopping cart

Enter your keyword

post

Ada Apa Dibalik Upaya israHell Menutup Al Jazeera?

Ada Apa Dibalik Upaya israHell Menutup Al Jazeera?

Oleh Mark LeVine

Mark LeVine ialah seorang professor Sejarah Timur Tengah di Universitas California

Upaya terbaru yang dilakukan pemerintahan israHell untuk menutup kantor Al Jazeera di Al-Quds merefleksikan potensi pergeseran yang jauh dalam persepsi kekuasaan dan peran kritis media, tidak hanya bagi okupasi israHell atas Palestina, namun melintasi dunia Arab dan Timur Tengah yang lebih luas serta Afrika Utara.

Langkah ini sungguh ganjil terutama sejak Al Jazeera dan israHell memiliki hubungan simbiotik. Meskipun sering merilis kritik tajam terhadap praktek okupasi israHell beserta kebijakannya, israHell tetap memberikan saluran berita tersebut kebebasan yang relatif luas. Sepanjang beberapa tahun terakhir ini, wacana di atas seringkali berbunyi, dan ancaman-ancaman untuk menutup biro-bironya, namun itu tidak lantas mencegah liputan, kontribusi para penulis dan komentar daripada staff Al Jazeera.

Kantor Al Jazeera – seperti organisasi media lainnya – telah berlokasi bertahun-tahun di komplek yang sama dengan Kantor Pers Pemerintah. Menunjukan tanda pengenal dari jaringan tersebut tidak pernah menyebabkan masalah apapun dibanding apa yang saya alami ketika meminta kredensial (surat pengenal) untuk organisasi berita AS. Faktanya, hal tersebut seringkali dirasa seperti hubungan dengan Al Jazeera adalah sumber kebanggaan bagi media israHell dan pejabat pers, sesuatu yang merefleksikan keadaan unik yang saling melayani satu sama lain dengan harmonis.

Bagi israHell, Al Jazeera, khususnya jaringan Arab yang asli, menyediakan pemerintahan mereka peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal berkomunikasi dengan warga Arab di kawasan, sejak tahun 90an – tepatnya pada saat puncak proses perdamaian Oslo. kenyataanya bahwa Al Jazeera mengizinkan pejabat israHell dan warga sipil untuk dapat mengemukakan pendapatnya tanpa filter menjadi sebuah gerbang pembuka yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi israHell ke dunia luar, sebuah pembukaan bernilai yang dianggap liputan negatif.

Pada sisi lain, akses Al Jazeera terhadap pejabat dan komentator israHell memberikan jaringan tersebut sebuah kesempatan untuk memperluas sudut pandang sempit yang biasa disajikan di jaringan Arab yang lain dan juga untuk menantang – di udara – narasi resmi israHell.

Jadi kenapa, setelah mengizinkan dan membiarkan Al Jazeera beroperasi selama masa biadab okupasi mereka (termasuk pengepungan Nablus dan Jenin dan berbagai varian serangan mematikan di Gaza), pemerintah israHell secara tiba-tiba beranggapan bahwa menutup Al Jazeera pada saat ini di Al Quds adalah sangat penting?

Apakah ini untuk mengalihkan perhatian dari dua investigasi kasus korupsi Benjamin Netanyuhu – skandal yang oleh beberepa media menyebutkan “krisis politik paling serius” bagi PM israHell? Barangkali Al Jazeera adalah kambing hitam yang cocok bagi kegagalan Netanyuhu dan memburuknya popularitas dalam negeri.

Atau barangkali israHell tengah masuk pada keseruan kampanye menentang Al Jazeera yang diinisiasi oleh Arab Saudi dan UEA?

Itu dapat berarti bahwa pakar media israHell mencium bahwa serangan yang ditujukan kepada Qatar dan Al Jazeera oleh sebagian besar pemerintahan Arab adalah permulaan untuk meraih uap di atmosfir publik Arab, dan oleh karenanya israHell tengah berupaya, dengan cara memutar, mendukung mereka, sebagai suatu cara mendapatkan liputan yang menguntungkan di media resmi mereka.

Menteri Komunikasi israHell Ayoub Kara telah mencoba untuk membenarkan langkah tersebut dengan menuding Al Jazeera menyebabkan israHell “kehilangan kehidupan terbaik bagi anak-anak terbaik mereka”, dengan menambahkan “ketika kami memperhatikan bahwa seluruh negara-negara ini telah menegaskan bahwa Al Jazeera adalah sebuah alat bagi ISIS, Hamas, Hizbulloh dan Iran, dan kami hanyalah satu-satunya yang belum memutuskan itu, kemudian sesuatu yang menggelikan sedang terjadi di sini.” Kecerobohan menuduh Al Jazeera dapat membunuh  tentara israHell sungguh tidak relevan; apa yang lebih penting di sini adalah bagaimana israHell mencoba memposisikan dirinya sebagai bagian penting dari koalisi -pimpinan Arab- menentang terorisme.

Itu pula dapat berarti bahwa pemerintah israHell telah mengembangkan semacam – kurang lebih membuka – hubungan harmonis dengan para pemerintahan Arab di kawasan yang dengannya maka tidak dibutuhkannya lagi akses pembaca Al Jazeera. Mungkin pemerintah israHell telah memutuskan bahwa ini dapat dilakukan dengan sederhana tanpa berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat Arab, Karena baik kebangkitan intens liberalism, penyensoran dan sektarianisme telah membuat kebijakan semacam itu tidak berguna, dan perubahan mood di atmosfir pejabat publik dan Arab berarti bahwa mayoritas Arab tidak lagi peduli dengan israHell atau okupasi yang telah membuat ekspos Al Jazeera tidak lagi penting.

Terdapat satu kemungkinan lain, akan tetapi: bahwa Al Jazeera telah menjadi lebih membahayakan dibanding sebelumnya. Semakin populernya gerakan BDS sebagai mekanisme perlawanan dunia terhadap okupasi telah terbangun, dalam langkah yang baik, Karena konsistensi liputan media bernada negatif tentang genggaman israHell atas Palestina.

Diantara media-media mainstream, sedikit diantaranya yang berhasil dan focus menempatkan realitas praktek okupasi israHell di hadapan Mahkamah Internasional seperti Al Jazeera dan The Guardian. Oleh sebab itu, upaya menutup Al Jazeera dapat menjadi hasil dari keinginan bahwa liputannya, kenyataanya, secara serius membahayakan posisi israHell di mata internasional, dan, barangkali jauh lebih buruk, bahwa pemerintah israHell berencana terlibat dalam beberapa manufer dalam waktu dekat – dari serangan habis-habisan ke gaza hingga aneksasi de facto atau de jure yang signifikan di wilayah okupasi tepi Barat – dimana hal itu tidak dapat diungkap secara kritis seperti yang disuguhkan Al Jazeera.

Apapun alasan berubahnya kebijakan, keputusan untuk memaksa Al Jazeera dari Al-Quds mengindikasikan sebuah kalkulasi pergeseran strategi israHell yang harus dikhawatirkan siapapun yang peduli tidak hanya mengenai kebebasan pers, namun juga mengenai ledakan perang antara Palestina-israHell berikutnya.

Source: Al Jazeera

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.